la planche d'humeur

Archive/RSS

"on ne voit bien qu'avec le cœur. L'essentiel est invisible pour les yeux." --Antoine de Saint Exupéry

Current obsession: YSL Glossy Stain #VioletEdition, #CorailAquatique, & #PinkTaboo. I am not a make up junkie, but a skin care junkie slash lip stain fan. Wish I could have—at least—one of them :’)

I know he’s the one when i don’t ask myself of he’s the one or not. Coz if he’s the one, that voice in your heart just knows.

I knew he was the one when future uncertainties became certain and when my insecurities became secure.

After Watching “The Grand Budapest Hotel”

Viral Marketing dari film The Grand Budapest Hotel ini berawal dari Instagram seseorang. Kemudian, saya berhasil dibuat penasaran dengan judul yang memancing rasa penasaran dan poster yang menarik perhatian. Saya pikir, ini album baru dari suatu band alternatif. Ternyata, The Grand Budapest Hotel adalah sebuah film arahan Wes Anderson yang diluncurkan sejak bulan Maret lalu.

What’s so special? 

Saya bukan penggemar fanatik Wes Anderson, sutradara asal Texas AS. Tetapi, saya menyukai beberapa film yang pernah dia garap. Tiga filmnya, The Royal Tenenbaums, Moonrise Kingdoms, dan Fantastic Mr. Fox, adalah tipikal film yang dengan mudah saya nikmati karena menawarkan cerita yang unik dan gambar-gambar yang artistik. Singkatnya, poin pertama yang membuat film ini sangat menarik perhatian adalah nama Wes Anderson yang menjanjikan film bermutu.

Poin kedua, film ini bertabur bintang. Tidak hanya bintang Hollywood tetapi juga aktor dan aktris yang tenar di Eropa, seperti Lea Seydoux dan Adrien Brody. Bintang-bintang tersebut memiliki reputasi yang baik secara komersial maupun penghargaan festival film. Mari kita sebutkan satu per satu. Ada Ralph Fiennes, Willem Dafoe, Edward Norton, Jude Law, Bill Murray (The Life Aquatif with Steve Zissou), Jason Scwartzman (The Royal Tenenbaums), Tilda Swinton, Owen Wilson, dan Saoirse Ronan. Whoa! Film ini habis uang berapa ya buat membayar artis-artis ngetop tersebut? Atau artis-artis di atas mau saja dibayar murah bahkan gratisan demi film arahan Anderson? Karena beberapa nama ngetop di atas hanya muncul dalam waktu yang singkat di layar.

Poin ketiga, film ini diadaptasi dari novel karya Stefan Zweig dengan judul yang sama. Novelis campuran Austria-Hungaria kelahiran 1881 ini dikenal berkat karya-karyanya yang sarat cerita sejarah Eropa yang kompleks. Beberapa novelnya telah diangkat ke layar lebar dan menuai banyak pujian. 

Ketiga poin yang menjelaskan mengapa film ini sangat spesial seakan cukup memberikan gambaran singkat: film ini menawarkan hiburan yang berbeda dari film-film Hollywood pada umumnya. Pada kenyataanya, film ini memang menawarkan hiburan yang berbeda. Setidaknya, menurut saya pribadi.

Film ini menawarkan gambar yang sangat apik dari segi warna, komposisi gambar, dan  wardrobe styling. Saya sangat terkesan dengan gambar-gambar yang disajikan dari awal hingga akhir film. Kalau film ini dipotong di setiap adegan dalam lembaran foto, pasti hasilnya sangat menakjubkan. Harmonisasi warnanya sangat indah. Setiap adegan menampilkan setiap detail dengan cermat. Aktor dan aktris berakting di depan kamera sesuai dengan komposisi seni yang baik. 

Saya menemukan ketegangan di setiap babak dari film ini dengan takjub. Film ini berhasil menggiring penonton untuk mengikuti jalan cerita yang kompleks dengan adrenalin dan rasa penasaran tinggi yang dipompa mulai dari pertengahan film hingga mendekati akhir film. Adegan kabur dari penjara, kejar-kejaran, dan saling tembak, memberikan sensasi tegang yang berbeda dari film-film thriller dan action Hollywood lainnya. 

Bagaimana dengan jalan ceritanya? Film ini menawarkan jalinan cerita yang cukup kompleks. Terlalu panjang untuk diceritakan di sini. Tokoh utamanya adalah Gustave, concierge Grand Budapest Hotel, yang diceritakan oleh Zero Mustafa, bawahannya, yang kemudian disampaikan kepada penulis novel The Grand Budapest itu sendiri. Skenario digarap dengan matang sehingga setiap kata-katanya dengan detail menggambarkan film ini.

Dari novel yang serius diarahkan oleh Wes Anderson ini menjadi sebuah film yang sangat menghibur, wajib ditonton, dan memberikan kesan mendalam dari segi sinematografi maupun plot cerita. Selamat menonton!

wabisabi-chindonchannel:

Sushi of a grain of rice

Copyright © 2014. All rights reserved

(via japanlove)

Now, the world’s population has risen to a little more than 6.8 billion people, and it is said that the number of people who enjoy the same level of life as we do has increased to approximately 2 billion people. It’s also reported that a further 2 billion are waiting in the wings. If the number of consumers hits 4 billion, the earth’s thin skin will be blown off. When we had this discussion, we thought again about the ‘simplicity’ that had been prized by the late creator Ikko Tanaka, who built the MUJI concept. That is, the way of thinking that says ‘this will suffice.’ Simple is good. Resources should be used as little as possible. It’s not a matter of being resigned to something, but rather of wanting to make things that ‘will suffice’ while being full of self-confidence. Since ancient times, Japanese people have specialized in holding back personally for the sake of their surroundings. This is the ‘this will suffice’ concept.

Masaaki Kanai, MUJI President (via hikikogal)

Nice!!

(via mujiblogger)

Persona Philophile

Philophile dalam urbandictionary.com didefinisikan sebagai a lover of loves. One who has fondness for the concept of loving objects, if not the love of the objects themselves directly. Sedangkan di dunia mode, kata Philophile muncul saat Tommy Ton, fotografer streetstyle dari JakandJil.com, membahas tren minimalis yang dibawa oleh Phoebe Philo, salah satu desainer paling dibicarakan saat ini yang merupakan Creative Director dari Rumah Mode Céline, pada tahun 2010. Kata Philophile yang ditujukan untuk desainer Phoebe Philo bukan suatu konotasi yang berlebihan karena sejak koleksi Céline ada di tangan wanita Inggris ini, label fashion dari Prancis tersebut begitu dahsyat membawa tren minimalis menjadi sebuah tren fashion dunia. Media kini menyebut Céline sebagai one of the most-coveted fashion brands in the worldSetiap item yang ada dalam runway Céline dengan cepat menjadi tren. Mulai dari tas Phantom yang banyak dijual tiruannya, sling bag Trio yang diadopsi banyak desainer lokal, sampai sandal Furkenstock yang membuat sandal Birkenstock kembali dianggap fashionable oleh para fashion blogger.

Tidak hanya menciptakan desain yang luar biasa, Phoebe Philo juga merupakan sosok yang tidak biasa. Bukan dalam menciptakan kontroversi murahan, tetapi mulai dari perjalanan karir, proses kreatif, prinsip hidup, hingga personal style wanita berusia 41 tahun ini sangat menginspirasi. Berdasarkan data dari berbagai sumber, tulisan ini mencoba merangkum sepak terjang desainer Phoebe Philo di dunia mode.

A Truly Britanian

Philo lahir di Paris namun saat berusia 2 tahun ia pindah ke Inggris, tepatnya di Harrow sebuah daerah suburban di Northwest London. Orangtuanya adalah orang Inggris yang pernah bekerja di Paris dan suaminya, Max Wigram, juga seorang pria Inggris pemilik galeri seni di New Bond St., London. Philo mengenyam pendidikan di Central Saints Martins College of Arts and Design di London seperti Alexander McQueen dan desainer-desainer jenius dari Inggris lainnya. Ia lulus pada 1996 dan sejak itu mulai hijrah ke Paris untuk menjadi asisten desainer Stella McCartney yang juga teman lamanya di kampus, untuk rumah mode Chloé. 

Saat berusia 10 tahun, Philo telah merombak pakaian yang dimilikinya untuk bisa menjadi pakaian dengan model terbaru saat itu. Beberapa tahun kemudian, Ibunya, yang seorang desainer grafis untuk sampul CD musik, membelikannya mesin jahit untuk Philo dan sejak itu ia selalu mengenakan pakaian hasil desainnya sendiri, bahkan sampai sekarang. "I never had a massive desire to buy clothes. I liked to customise the clothes I already had or was given when I was younger. If I didn’t like them that much, I made them how I wanted them to be. This is always a bit difficult to talk about, but I don’t really like shopping. I don’t get a great feeling out of it," katanya. Ibu Philo adalah tipe wanita yang selalu mengikuti mode dan senang membeli pakaian desainer setiap saat memiliki uang lebih, meskipun itu jarang terjadi. Berbeda dengan Ayah Philo, seorang manajer properti, yang menurutnya tipikal pria Inggris kuno yang hanya menggunakan pakaian yang sama setiap saat. Philo mengakui bahwa dia terpengaruh oleh Ayah dan Ibunya dalam hal fashion, menyukai fashion dan pakaian tapi memilih model yang klasik dan yang bisa ia kenakan terus sepanjang tahun. 

Philo tidak pernah menyangka fashion bisa menjadi lapangan pekerjaan untuknya. Saat di bangku kuliah di Inggris, Philo tidak pernah bermimpi untuk benar-benar menjadi fashion designer terkenal. Ia mengakui selama di bangku kuliah, Jil Sander dan Helmut Lang adalah dua desainer idolanya. Keduanya adalah desainer dengan garis minimalis dan Helmut Lang merupakan desainer dengan garis yang lebih eksperimental. "I’ve always been attracted to the wilder things, but not when it comes to my own work. I’ve always had a sense that if I can’t wear it, what’s the point?" ujar Philo tentang masa kuliahnya. Selulus dari Central Saint Martins, Philo menganggur selama beberapa bulan sampai kemudian temannya, Stella McCartney, Creative Director Chloé pengganti Karl Lagerfeld, mengajaknya untuk menjadi asisten desainer pada tahun 1997.

Philo dan Chloe

Pertemanannya dengan Stella McCartney membuat Philo harus hijrah ke Paris sebagai asistant Creative Director di rumah mode Chloé. Selang beberapa musim di Chloé, konglomerat luxury fashion designer LVMH mengajak McCartney untuk menciptakan label atas namanya sendiri. Pada saat itu, Philo mendapat dua tawaran sekaligus: menjadi asisten McCartney di rumah modenya yang baru atau menggantikan McCartney sebagai Creative Director rumah mode Chloé. Philo memilih nomer dua. Pilihannya ini membuat pertemanannya dengan McCartney sampai sekarang tidak seperti dulu lagi. Tetapi hal ini diakui Philo merupakan pilihan yang terbaik karena sifat keduanya yang berbeda. McCartney yang dicintai dan mencintai publikasi media sedangkan Philo sebaliknya. 

Sebagai Creative Director Chloé mulai tahun 2001, Philo menuai prestasi yang luar biasa. Dengan desain yang mengeksplorasi DNA Chloe dengan rangkaian baby doll dresses dan elemen cute, membuatnya mampu menaikkan pamor Chloé sebagai rumah mode yang patut diperhitungkan di era 2000an. Philo mampu menaikkan penjualan hingga 60% di tahun pertama saja. Tidak hanya itu, Philo juga mendesain Paddington Bag yang menjadi ‘It Bag’ dan meningkatkan pundi-pundi rumah mode Chloé. Rahasianya adalah Philo menciptakan desain yang diinginkan wanita Chloé dengan sangat baik, bahkan sebelum mereka menyadarinya. Hasil yang gemilang di rumah mode Chloe ini membuat nama Philo disejajarkan dengan desainer prestasius lainnya seperti Marc Jacobs, Alexander McQueen, dsb.

Di saat nama Chloé semakin populer dan margin keuntungan rumah mode tersebut naik drastis, di tahun 2006 Philo memutuskan untuk keluar. “Leaving Chloé felt like the most honest thing for me to do; for my integrity, my husband and my daughter.” kata Philo pada Penny Martin, editor-in-chief The Gentlewomen sepuluh tahun kemudian.

Philo dan Celine

Kabar yang mengejutkan di tahun 2009, LVMH mengajak Philo untuk kembali ke dunia mode setelah selama 3 tahun menghilang sejak keputusannya untuk keluar dari Chloé. Tawaran ini berupa posisi Creative Director untuk rumah mode Céline di Paris.

Céline adalah rumah mode yang dibangun oleh Céline Vapiana di Paris pada tahun 1945. Pada awalnya, Céline adalah label sepatu anak-anak made-to-order tetapi di tahun 1969 menjadi label luxury ready-to-wear. Céline dibeli oleh Bernard Arnault selaku presiden LVMH dan menunjuk Michael Kors, desainer asal New York untuk menjadi Creative Director di tahun 1997 sampai 2004. Céline menjadi rumah mode dari Paris yang bergaya modern tetapi dicintai oleh wanita ekskutif di New York semenjak dipegang oleh Kors. Setelah Kors mengundurkan diri dari Céline, rumah mode yang berkantor di 23 – 25 rue du Pont-Neuf, Paris ini seperti kehilangan identitas dan selama dua kali berganti desainer selalu menuai kerugian. 

Pemilihan Philo sebagai desainer Céline adalah berita yang sangat ditunggu-tunggu oleh insan mode dunia. Apa yang akan dilakukan seorang Philo dengan rumah mode yang hampir gulung tikar ini? “After I’d had time to absorb it, I realised it was an interesting project. Céline doesn’t have a history of an iconic designer or much of an archive. It can be difficult for designers to step into someone else’s shoes. But for me, Céline was a clean slate.” ujar Philo pada The Gentlewomen di tahun 2010 tentang Celine. 

Sejak dipegang oleh tangan dingin Philo, Celine yang pada awalnya tidak memiliki ciri khas yang kuat menjadi distinguishable dan menuai pujian dari para kritikus mode. "Some of the brand I respect most in the world have that core. So I’m proud that people are now coming back and asking for the same thing," ujar Philo. Wanita Céline yang diciptakan Philo kini menjadi wanita dengan collarless white shirt with ultra-long cuffs, wide-legged trousers, tailored blazer, midi pleated skirts, minimalism and constructed dress dan oversize coat. Semuanya dalam warna neutral dan pastel, detail cutting yang presisi, dan tentu saja minimalis. Menurut media seperti New York Times dan Women’s Wear Daily, Philo menciptakan wabah ‘Power Dressing’ yaitu empowering women through fashion. Wanita yang mengenakan Celine diibaratkan sebagai wanita yang memiliki kecerdasan, karir gemilang, dan selera fashion kelas tinggi. ”I hope when women wear Céline they feel confident and strong. I guess there is a bit of a political statement behind Céline, which is that we should be teaching young girls to feel good … I am not a big fan of women being sexualised through clothes, as you can probably tell from my work. I have no problem with a woman wearing anything as long as she has chosen to wear it for herself. But I do think there are too many images of women that are sexualised and too many examples of women dressing for other people and disempowering themselves in the process,” kata Philo.

Satu kelemahan pada rumah mode ini hanyalah harganya yang sangat tinggi untuk sebuah busana semi-formal yang biasa dikenakan wanita saat di kantor. Harga satu jaket Céline bisa mencapai €2000. “They’re well made and the fabrics are beautiful. So I believe they will last, as an investment. They’re not something just to be thrown away,” kata Philo tentang pakaian yang dia desain untuk Céline.

Empowering But Lack of Publication

Philo bukanlah desainer kesayangan media massa. Ia sangat jarang tampil dalam foto paparazzi ataupun wawancara para jurnalis. Ketika setiap koleksinya selesai diperagakan di Paris Fashion Week, Philo selalu menghindari pertanyaan wartawan. Bahkan pada saat live interview dengan Alexandra Shulman di Vogue Festival di Inggris pada Maret lalu, ia dinilai terlalu gugup dan tertutup. Philo memiliki opini tersendiri mengenai hal ini, "I do like the idea of women not showing too much of them being quite reserved in a way, and quite covered.The only way I can do it is by being completely honest. Everything I do here is authentic to me and I do it as if it was my own."

Philo memilih untuk tidak memiliki akun Facebook, Twitter, Instagram, Blog, dan sosial media lainnya. Dalam suatu acara, Philo pernah menuturkan, "The chicest thing is when you dont exist on Google." Kalimat tersebut sempat menuai silang pendapat di media karena fenomena media sosial yang mampu meningkatkan popularitas dan personal branding. Stuart Jeffries dari The Guardian menyebutkan bahwa pendapat Philo tersebut adalah kata lain dalam mendefiniskan privacy is another luxury

Sejak ia mengundurkan diri dari rumah mode Chloé—meskipun popularitasnya sedang ada di puncak—karena memilih untuk merawat anak dan suaminya, Philo mengakui bahwa keluarga adalah prioritas utamanya. Bahkan ia menolak untuk bekerja di studio Céline di Paris demi bisa bertemu dengan tiga anaknya setiap hari, sebelum tidur. Hal ini membuat Marco Gibetti, selaku Presiden rumah mode Céline, setuju untuk membangun studio Celine di Cavendish Square, London khusus untuk Philo. Keputusan ini bukan tanpa alasan. Saat masih menjabat sebagai Creative Director di Chloé, Philo harus menjalani masa terberat antara bekerja dengan keluarga. Suaminya yang tinggal di London dan dirinya yang bekerja di Paris, serta anak sulungnya, Maya, harus saling mengorbankan waktu dan tenaga agar dapat bertemu entah di London atau Paris sebagai komuter. Tidak hanya itu, Philo juga memiliki prinsip yang kuat sebagai wanita yang bekerja, istri yang bisa meluangkan waktu untuk suaminya, dan terutama ibu bagi ketiga anaknya. Philo mengatakan, “I have so many friends that are single – really intelligent women that are attractive in every single way – who are unable to commit to men. I worry that women are becoming so independent and dominant that they are losing any sense of softness or acceptance. I sometimes have to ask myself: “What do I want to be, right or happy?”  

Selama tiga tahun setelah pensiun dari Chloé, Philo menghabiskan waktunya di Inggris sebagai Ibu bagi Maya dan Marlow serta istri bagi Max Wigram. Ia mengaku tidak bekerja, tidak banyak berbelanja, tidak membaca majalah, dan tidak dikejar oleh deadline seperti umumnya wanita karir. Sampai pada suatu titik, ketika Bernard Arnault sebagai CEO LVMH, menawarkan secara langsung kesediaan Philo untuk menjadi Creative Director Céline pada tahun 2008. Alasan pertama Philo menerima tawaran ini adalah, keinginannya agar bisa menjadi istri dan ibu yang memiliki penghasilan sendiri. “The one thing I have always had is my own income. I had a paper-round when I was 13, slogging a sack-load of tabloids around a housing estate. That feeling of being paid on a Saturday is important, empowering; the money was mine to do what I wanted with. It wasn’t that Max couldn’t afford to keep me but that I really don’t like the idea of being a kept woman,” kata Philo mengenai keinginannya untuk kembali bekerja. Philo juga memilih Céline daripada tawaran untuk memiliki label atas namanya sendiri karena seperti disampaikan oleh Alice Rawsthorne dari New York Times: “it also felt interesting because Céline was founded by a woman, and what it had stood for historically was clothes for women by women.”

Pada 2013, Philo masuk dalam 100 Most Influental People versi TIME magazine karena karya-karyanya yang empowering women dan berhasil menciptakan kembali era minimalis di dunia fashion. Selain itu, Philo masuk dalam daftar Iconic Female Designers Througout The Years in Vogue. Di akhir tahun 2013, Philo memperoleh gelar OBE (Order of the British Empire) dari Pangeran Charles di Buckhingham Palace. Lebih dari sekedar prestasi yang sebenarnya telah Philo dapatkan, tetapi juga sebuah catatan dalam sejarah di mana ada seorang wanita mendesain busana untuk menguatkan peran gender di ranah fashion.

Sumber:

"Phoebe Philo Designs The Clothes Women Actually Want to Wear" by Penny Martin. The Gentlewomen,Spring and Summer 2010.

http://thegentlewoman.co.uk/#/library/phoebe-philo

"Phoebe Philo’s Third Act" by Alice Rawsthorn.  T: The New York Times Style Magazine, February 25, 2010.

http://www.nytimes.com/2010/02/28/t-magazine/28well-philo.html

"Phoebe Philo: ‘I Find Mediocrity Hard" by Hannah Mariott, The Guardian, March 31, 2014

http://www.theguardian.com/fashion/fashion-blog/2014/mar/31/phoebe-philo-celine-interview-vogue-festival-alexandra-shulman

COMME des GARÇONS COMME des GARÇONS FW 2013-2014

Celine Fall/Winter 2014

Sejak Phoebe Philo, one of my favorite designer, kembali ke dunia mode dan menjabat sebagai Creative Director Celine pada 2010, rumah mode satu ini seperti kembali mengeluarkan ‘taring’nya. Kalau kembali ke masa sebelum Philo’s Invansion, semua orang memang sudah banyak yang mengenal Celine tetapi tidak banyak yang mengenakannya dan tidak banyak tren fashion dipengaruhi oleh desain-desain label yang didirikan oleh Celine Vipiana dan berawal dari label sepatu untuk anak-anak ini. Bandingkan dengan sekarang: sepatu a la Birkenstock menjadi hits kendati modelnya sering dianggap ugly, detail knot pada busana ditiru banyak label lainnya, dan siapa yang belum pernah melihat Celine bag di jalanan dari yang original sampai KW3 yang dijual di ITC? 

Karena begitu luar biasanya Philo menciptakan tren di dunia fashion, saya jadi penasaran, melalui koleksi terbarunya kali ini, trend apa saja yang akan muncul? Mari kita amati satu per satu.

Wrap Midi Skirt Rok dibawah lutut dengan model tali di ujung pinggang dan memperlihatkan kaki jenjang wanita ketika berjalan banyak dikenakan para model sepanjang peragaan busana. Menurut saya, ini adalah statement item yang kemungkinan besar bisa menjadi tren di kalangan fashionista karena terlihat feminin tapi tetap sophisticated, mudah diciptakan dan juga dikenakan dengan atasan apapun.

Chunky Heels on Flatform Shoes Sepertinya, Philo suka banget ya memanjakan wanita dengan pilihan sepatu yang ekstra nyaman meskipun agak berat dikenakan. Yap, model sepatu dengan hak penuh ini juga bisa diramalkan akan menjadi tren karena masih sejalan dengan tren sepatu sekarang seperti flatform sandals, sandal a la Birkenstock, dan Dr. Martens.

Check! Check! Check! Motif kotak-kotak sudah pernah diangkat Celine di koleksi Fall 2013 lalu. Hanya saja untuk koleksi ini, motif kotak-kotaknya lebih simpel dan hanya dua warna saja. Sangat potensial untuk ditiru medium designer brand di seluruh dunia.

Wrap Kimono Nggak hanya rok yang perlu ditali untuk efek melangsingkan badan, tetapi juga atasan dan outer berupa wrap kimono yang ditampilkan dalam warna hitam dan putih dalam koleksi ini.

Oversize Men-styled Trousers & Thirties Inspired Double-breasted Coat Untuk dua hal ini, saya kurang yakin bakal jadi tren karena lebih ke selera pribadi bahwa dua item ini nggak banget dan sulit dibayangkan bakal dengan mudah dikenakan wanita untuk pakaian sehari-hari dan khususnya di negara tropis. Meskipun dalam koleksi ini, Philo ever said I very much wanted women in men’s clothes, but it was a complex idea so we brought it back to a quite feminine silhouette.” dan kenyataannya dua item tersebut wara-wiri dikenakan oleh peragawati selama fashion show, saya kurang yakin bakal banyak yang mengadaptasi tren ini. Pertama, karena masih terlihat sangat ‘kuno’. Kedua, sulit dikenakan untuk pakaian formal maupun kasual. Dan ketiga, masih sangat kental aura maskulinnya sehingga kembali pada anggapan bakal lebih sedikit wanita yang ingin mengenakannya. But, who knows?

Chloe Fall 2006 #throwback

Maaf, saya nggak bisa nggak tahan untuk upload soal fashion!

Kali ini saya mau bahas koleksi runway terfavorit selama tahun 2004-sekarang. Koleksi ini dari rumah mode Chloe di Paris pada Fall-Winter 2006 lalu. Ini adalah koleksi pertama Chloe sejak Phoebe Philo memutuskan resign dari label yang berdiri sejak 1952 ini. Jadi, jangan heran jika koleksi ini masih dibayang-bayangi oleh siluet desain dari Philo. Kharakter yang paling kentara adalah potongan loose dan boxy seperti boxy coat, oversize dressbulky heels, dan detail feminin yang seperti malu-malu untuk ditambahkan diantara elemen boyish lainnya. Tapi, kalau kata Style.com, “this collection was not about to snap with the vivacious, girl-friendly energy that Phoebe Philo brought to the house”Memang, koleksi ini seakan-akan didesain untuk wanita Chloe yang biasanya tampil dress up dan feminin untuk sesekali melepaskan diri dari kungkungan tren dan definisi cantik di mata orang lain. Wanita Chloe yang sudah dikonstruksi oleh Philo selama 5 tahun lamanya sejak menjabat menjadi Creative Director pada 2001.

Dari koleksi ini hampir setiap set busana saya suka banget eventhough the saggy silhouette somewhat looks ugly. Bahkan setelah 8 tahun koleksi ini berlalu, saya nggak pernah bosan lihatnya. Kalau saya pikir-pikir, koleksi ini pun nggak akan termakan jaman sampai dua tahun ke depan, alias sepuluh tahun sejak koleksi ini diluncurkan. Karena masing-masing item dari koleksi ini adalah elemen klasik yang timeless. Lihat saja midi skirtbaby dollsweater, dsb. Saya suka setiap item, stylingaccesories, dan make up modelnya. Di samping itu, koleksi ini juga dibawakan oleh model-model yang tepat, yang menurut pendapat saya ada di jaman model runway masih cantik-cantik antara tahun 2004-2007. Jaman Gemma Ward, Bette Franke, Freja Beha, Raquel Zimmerman, Jessica Stamp, dan kawan-kawan lainnya masih jalan di catwalk. Selain itu, bukankah sekarang lagi tren no make up make up seperti model di koleksi ini?

Secara keseluruhan, koleksi ini mampu membuktikan bahwa meski tanpa Phoebe Philo, Chloe masih bisa menjadi pilihan wanita di luar sana yang ingin tampil cantik (dalam definisi yang agak berbeda tentunya) karena setelah koleksi ini sampai sekarang, belum ada koleksi yang cukup kuat seperti ketika dipegang oleh Philo.

See the entire collection here.

it’s the journey that matters most, not the destination

Hi, Guyzzzzzz! 

Lama banget blog ini ditelantarkan dari tulisan-tulisan saya. Maafkan. Saya nggak yakin dulu saya ngapain aja kok blog ini cuma diisi gambar-gambar doang. Mungkin saya terlalu capek mikir di sekolah, jadi males mikir lagi buat blog ini. Sebenarnya itu adalah kenyataan dan bukan kemungkinan lagi. Saya juga ‘terlalu sibuk’ dengan blog saya satunya, yang lebih banyak membahas seputar minat terbesar saya selama ini: fashion dan visual arts. 

Saya memutuskan menulis lagi untuk menyampaikan kabar gembira: saya akhirnya memilih skripsi untuk semester depan sebagai syarat kelulusan mahasiswi S1 Reguler Ilmu Komunikasi FISIP UI (Cerewet banget deh sayaaa). Hmmm ini keputusan besar yang sudah saya pikirkan dari semester 5. Tapi saya terhambat oleh persyaratan departemen yang mewajibkan bagi mahasiswa yang mau skripsi harus punya IPK cum laude atau nilai-nilai di mata kuliah penelitian harus minimal A-. Berbeda kan dengan jurusan atau universitas lainnya yang malah mewajibkan mahasiswa buat skripsi. Masalahnya adalah, IPK saya mepet banget (tapi untungnya nilai-nilai makul penelitian memenuhi persyaratan). Selain itu ada juga tekanan sosial di lingkungan kampus yang seakan-akan skripsi adalah jalur kelulusan yang sebaiknya dihindari karena susahnya minta ampun. Memang susah, dan pastinya bakal susah banget sih. Tapi kalau memang itu bermanfaat di masa depan, kenapa nggak? Karena saya punya keyakinan kalau skripsi itu dibutuhkan buat mahasiswa nggak hanya buat dapet gelar sarjana, tapi juga buat mengasah pola pikirnya. Nah, setelah saya berdiskusi dengan salah satu dosen paling menyenangkan di jurusan, saya diijinkan untuk memilih jalur skripsi. Yeayyyy, lega bukan main!

Tapi, tunggu dulu. Kesempatan selalu diikuti dengan tantangan baru. Tantangan saya adalah: mulai sekarang harus rajin baca, rajin belajar, rajin nulis, buat mengejar ketertinggalan. Jujur, meskipun nilai-nilai makul penelitian saya lumayan bagus, tapi saya merasa ilmu-ilmu yang saya pelajari di semester lalu itu sudah menguap entah ke mana! Apalagi selama 3 tahun kuliah, saya merasa bukan seorang mahasiswi yang menyerap ilmu dengan benar. Hm, saya nggak boleh menyesali sih. Karena itu saya harus merubah kebiasaan dari sekarang juga!

Pertama, saya harus sering baca buku! Sejak saya jadi mahasiswa di UI, saya jadi males banget disuruh baca buku. Padahal dulu saya ini kutubuku! Coba saja lihat di akun Goodreads saya yang diisi banyak buku yang pernah dibaca jaman dulu. Walaupun kebanyakan buku fiksi, tapi dulu saya yah lumayan lah baca bukunya yang fiksi agak berbobot dikit. Bandingkan dengan akhir-akhir ini, buku yang saya masukin di Goodreads kebanyakan cuma sampai di rak ‘currently reading' dan nggak selesai-selesai! Buku yang berhasil saya selesaikan malah komik dan buku-buku fiksi nggak penting. Jadi mulai sekarang saya harus lebih banyak baca buku, khususnya yang berhubungan sama skripsi saya (baca: buku-buku teori yang membosankan).

Kedua, saya harus sering-sering menulis! Kebiasaan ini saya mulai dari menulis tulisan ini. Kalau kalian baca tulisan lama di blog ini, saya sering berwacana buat lebih rajin menulis di blog. Buktinya? Saya baru ingat harus menulis lagi sekarang, alias setelah berbulan-bulan sejak saya berwacana. Pengennya sih, tulisan di blog ini bukan tulisan asal-asalan. Tapi juga yang berbobot dikit lah, yang ilmiah dikit (sok banget ya!), yang enak dan jelas dibaca. Nggak harus yang bikin dahi berkerut juga. Pokoknya belajar menulis yang bener deh di blog ini. 

Ketiga, saya harus berhenti jadi seorang yang suka nunda-nunda pekerjaan, deadliner, pemalas, dan saya harus mulai bikin target setiap hari. Jadi nanti saya nggak keteran sendiri ngerjain skripsinya.

Keempat, saya harus belajar bahasa Inggris lagi. Saya merasa bahasa Inggris saya masih kurang banget. Terutama keahlian menulis dengan bahasa Inggris dan penguasaan grammarnya. Ini buat kepentingan saya ke depannya sih. Jadi sambil baca buku-buku bahan skripsi yang kebanyakan berbahasa Inggris itu bisa sekalian belajar juga. 

Sepertinya baru empat poin itu dulu yang harus saya rubah dari kebiasaan saya mulai sekarang. Saya bersiap-siap buat 5 bulan ke depan yang bakal pusing tujuh keliling demi kelar skripsi dengan hasil yang memuaskan. Remember, it’s the journey that matters most, not the destination.

Ganbatte!

#skripsi  
Title: Tee Shirt Artist: Birdy 189 plays

In the morning when you wake up
I like to believe you are thinking of me
And when the sun comes through your window
I like to believe you’ve been dreaming of me

Dreaming mmm mmm

I know
'cause I'd spend half this morning
Thinking about the t-shirt you sleep in

I should know
'cause I'd spend all the whole day
Listening to your message I’m keeping and never deleting

When I saw you,
Everyone knew
I liked the effect that you had on my eyes

But no one else heard
The weight of your words
Or felt the effect that they have on my mind

Falling mmm mmm

I know
'cause I'd spend half this morning
Thinking about the t-shirt you sleep in

I should know
'cause I'd spend all the whole day
Listening to your message I’m keeping and never deleting


Frill Midi Skirt

Polcadot Midi Skirt

 
1 2 3 4 5